Articles by "Hadits"

Tampilkan postingan dengan label Hadits. Tampilkan semua postingan

SELAMAT MENUNAIKAN IBADAH PUASA 

 

Rasulullah Shalallahu 'alaihi wasallam bersabda;

Artinya:

"Barang Siapa memberi makanan untuk berbuka kepada orang yang berpuasa maka dia memperoleh seperti pahalanya (orang yang berpuasa) tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa tersebut sedikitpun." (Shahihul Jami', No.6415)

Kaum muslimin yang dirahmati Allah Subhanahu wata'ala, marilah kita ambil bagian, berlomba-lomba melakukan kebaikan dengan berbagi (memberi makan) kepada orang yang berpuasa. Sungguh, harta yang kita nafkahkan di jalan Allah Ta'ala inilah yang nantinya akan menjadi harta kita yang sesungguhnya, yang akan kita nikmati di akhirat nanti. Sementara apa yang ada di tangan kita, nanti akan kita tinggalkan, akan menajadi warisan ahli keluarga yang ditinggalkan, pakaian yang kita pakaipun akan lapuk dan usang, dan makanan yang kita makanpun akan menjadi sampah yang tidak bermakna. Hanya harta yang kita nafkahkan di jalan Allah Subhanahu wata'ala lah yang akan menjadi milik kita sesungguhnya, yang akan kita nikmati, yang akan menjadi pemberat amal timbangan kebaikan kita nanti di hadapan Allah Ta'ala.

Penulis, 
Hidayatullah, S.Kom.I
 (Koordinator Infaq Club Dewan Da'wah Sambas)

Salurkan Infaq, Sedekah dan Wakaf Anda melalui Infaq Club Dewan Da'wah Sambas,

 Insya Allah kami akan menerima dan menyalurkan amanah anda.

 Insya Allah, harta yang anda keluarkan di jalan Allah Ta'ala akan menjadi amal jariyah di hadapan Allah Subhanahu wata'ala.



TAHUKAH Anda siapa yang disebutkan pertama kali oleh Rasulullah dalam menghormati orangtua? Ya, orang pertama yang disebut oleh Rasulullah ï·º adalah ibu. Bahkan, Rasulullah mengatakannya sampai tiga kali. Baru kemudian, Rasulullah menyebutkan ayah. Itu pun hanya sekali.

Sebagaimana disebutkan dari Abu Hurairah. Dia berkata, “Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah ï·º dan bertanya, “Ya Rasulullah, siapakah orang yang lebih berhak saya hormati?” Rasulullah menjawab, “Ibumu.” Orang tersebut bertanya lagi, “Lalu siapa?” Rasulullah menjawab, “Ibumu.” Orang itu bertanya lagi, “Setelah itu siapa?” Rasulullah menjawab, “Ibumu.” Orang tersebut bertanya lagi, “Kemudian siapa?” Akhirnya Rasulullah pun menjawab, “Kemudian ayahmu,” (HR. Muslim).

Mungkin dalam benak kita bertanya-tanya, mengapa Rasulullah mengatakan ibu sebanyak tiga kali? Dan mengapa ayah tidak disebutkan pertama kali?

Ternyata, sosok ibu itu tidak akan pernah ada orang yang bisa menandinginya. Termasuk suami dan anaknya sendiri. Mengapa? Ibu merupakan sosok lembut yang sebenarnya sangat kuat. Ia mampu menahan beratnya mengandung. Ia selalu membawa anaknya kemana-mana dalam kandungannya. Meski menjadi mempersulit aktivitasnya, ia tetap tegar menjaga kandungannya.

Tidak hanya itu. Ibu juga merasakan sakitnya melahirkan. Ia perjuangakan hidupnya hanya untuk buah hatinya. Ia rela kehilangan nyawa agar buah hatinya bisa terlahir ke dunia.

Tidak berhenti sampai di situ. Setelah merasakan sulitnya mengandung dan sakitnya melahirkan, ibu juga menyusui anaknya. Pada saat itu, ia harus benar-benar menjaga pola makannya, agar asi yang diberikan pada anaknya berkualitas.

Dan masih banyak lagi pengorbanan ibu yang tidak bisa dilakukan oleh ayah. Dimana ayah lebih memiliki peran penting dalam memberi nafkah keluarga. Sedang ibu, harus memperjuangkan keharmonisan keluarganya. Baik dalam mendidik anak, taat pada suami, hingga mengelola keuangan keluarga.

Maka, tak heran jika Rasulullah ï·º begitu memuliakan seorang ibu. Jadi, masihkah kita menganggap bahwa ibu adalah makhluk yang lemah? []

BISAKAH Anda memprediksi, musibah apa yang akan Anda temui? Tentu tidak, bukan? Ya, kita tak akan pernah tahu akan seperti apa kita kedepannya. Kita juga tak bisa mencari rahunya. Sebab, hanya Allah Subhanahu wa Ta’ala sajalah pemegang kendali kehidupan setiap makhluk-Nya.
Siapa sangka jika suatu saat nanti kita akan mengalami musibah yang begitu dahsyat. Meski begitu, kita pasti mampu menghadapi musibah tersebut. Akan selalu ada jalan untuk mengatasinya. Tapi, tentu saja itu tidak gratis. Harus ada hal-hal yang perlu kita lakukan sebelumnya.
Ya, untuk membentengi diri kita dari musibah, maka perbanyaklah beramal baik. Amal-amal baik itu yang akan mengeluarkan diri kita dari musibah atau masalah kehidupan yang cukup berat. Sebagaimana hal ini telah dirasakan oleh tiga lelaki.
Diceritakan bahwa suatu ketika, ada tiga lelaki yang masuk ke dalam gua untuk melakukan sesuatu. Tapi, saat bermalam di sana, ketiga lelaki itu terjebak. Mulut gua itu tertutup batu besar dan kokoh.
Semua upaya telah dilakukan untuk menggeser batu itu. Tapi tetap saja tidak bergeser. Namun, saat berada dalam kondisi tersebut, mereka sadar bahwa tidak ada yang bisa menyelamatkan mereka, melainkan Allah. Mereka pun berdoa satu per satu pada Allah atas amal terbaik yang pernah dilakukan.

Lelaki pertama, berdoa dengan amalnya berbakti pada orangtua dan batu itupun sedikit bergeser. Tapi belum bisa digunakan sebagai jalan keluar. Kemudian, laki-laki kedua juga berdoa dengan amalnya yang mengikhlaskan uang 120 dinarnya pada seorang gadis dan membatalkan perbuatan zina. Setelah itu, batu itu bergeser tapi masih saja belum bisa untuk dilewati. Lelaki terakhir lalu berdoa dengan amalnya yang menyimpan gaji karyawan yang digunakannya untuk mengembangkan usaha pertenakan dan ia pun memberikan semua hasil dari peternakan itu pada pekerjanya. Dan akhirnya, batu itu terbuka lebar. Mereka semua pun bisa keluar dari gua dan selamat atas ijin Allah.
Berdasarkan kisah tersebut, kita diajarkan untuk senantiasa mengingat Allah. Menyadari bahwa setiap perbuatan kita dilihat Allah. Dan pasti dapat menjadi pencegah kita untuk melakukan perbuatan dosa, juga menjadi amalan baik yang bisa jadi perantara mengeluarkan kita dari masalah. Oleh karena itu, selalu dekatkan diri pada Allah agar Dia menjaga dan mempermudah urusan diri kita. []

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.