Articles by "Tazkiyatun Nafs"

Tampilkan postingan dengan label Tazkiyatun Nafs. Tampilkan semua postingan

Marah ialah bergejolaknya darah dalam hati untuk menolak gangguan yang dikhawatirkan terjadi atau karena ingin balas dendam kepada orang yang menimpakan gangguan yang terjadi padanya. 
Marah ada dua macam; ada yang terpuji dan ada yang tercela. Terpuji apabila dilakukan karena Allah   dalam membela agama Allah   dengan ikhlas, membela hak-hak-Nya, dan tidak menuruti hawa nafsu, seperti yang dilakukan oleh Rasulullah  , beliau marah karena ada hukum-hukum Allah dan syari’at-Nya yang dilanggar, maka beliau   marah. Begitu pula marahnya Nabi Musa ‘Alaihissalam dan marahnya Nabi Yunus ‘Alaihissalam. Adapun yang tercela apabila dilakukan karena membela diri, kepentingan duniawi, dan melewati batas. 
Ja’far bin Muhammad Rahimahullah mengatakan, “Marah adalah pintu segala kejelekan.” Dikatakan kepada Ibnu Mubarak Rahimahullah, “Kumpulkanlah untuk kami akhlak yang baik dalam satu kata!” Beliau menjawab, “Meninggalkan amarah.” Demikian juga Imam Ahmad Rahimahullah dan Ishaq Rahimahullah menafsirkan bahwa akhlak yang baik adalah dengan meninggalkan amarah. 

Marah adalah gejolak hati yang muncul karena beberapa sebab. Apabila amarah tersebut pada perkara dunia, hanya terbawa hawa nafsu bukan karena kebenaran, hendaklah bagi siapa pun untuk menempuh kiat-kiat syar’i berikut ini: 
1. Berdo’a
Do’a adalah Senjata ampuh seorang Muslim. Di tangan Allah   segala taufik dan petunjuk, Dia mampu menunjuki seseorang kepada jalan yang lurus, di tangan-Nya kebaikan dunia dan akhirat, dan Dia¬-lah penolong untuk membersihkan jiwa dari noda-noda kotoran akhlak tercela. Bila amarah datang berdo’alah kepada Allah   . Allah    berfirman:
ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ 
"Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. …(QS. Gafir:60)
2. Dzikrullah
Ingat kepada Allah   adalah obat bagi kerasnya hati. Dzikir akan mendorong orang (yang berdzikir) takut kepada Allah   yang berakhir pada ketaatan kepada-Nya. Maka, ingat Allah ketika marah akan mendorong pelakunya untuk kembali pada adab dan akhlak yang mulia. Allah    berfirman:
وَاذْكُر رَّبَّكَ إِذَا نَسِيتَ 
…Dan ingatlah kepada Tuhanmu jika kamu lupa… (QS Al-Kahfi:24)
Ikrimah berkata; ” ingatlah Rabb¬-mu ketika kamu marah”.
3. Mengucapkan Ta’awudz
Mengucapkam kalimat ta’awudz dapat menghilangkan marah; sebagaimana petunjuk Rasulullah   dalam haditsnya” Sulaiman bin Shurad radhiyallahu ‘anhu berkata,” ada dua orang saling mencela di hadapan Nabi   . Salah seorang di antara mereka terlihat sangat marah hingga matanya memerah dan urat lehernya menegang. Rasulullah   bersabda;
”Sungguh aku tahu sebuah ucapan yang kalau dia mau mengucapkannya akan hilang marahnya: “A’udzubillahi minasy syaithaanir rojiim” “aku berlindung kepada Allah dari Syaithan yang terkutuk; orang tadi malah berkata, “Apakah engkau melihatku sedang sakit (gila)?” (HR. Bukhari dan Muslim)
4. Mengubah posisi
Orang yang marah hendaknya mengubah posisi tubuhnya, jika sedang berdiri maka hendaklah duduk. Apabila belum juga hilang marahnya, bisa berbaring atau meninggalkan tempat; Berdasarkan hadits: 
Dari Abu Dzar Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah   bersabda,
 “Apabila salah seorang diantara kalian marah, sedangkan ia berdiri maka hendaklah duduk. Apabila belum hilang juga marahnya maka hendaklah Ia berbaring. (HR Ahmad, Abu Dawud, dan Ibnu Hibban)
5. Memberi Maaf
Memberi maaf kepada orang yang bersalah ganjarannya sangat besar. Ingatlah, wahai saudaraku!”orang kuat” bukanlah yang kuat dalam fisiknya, melainkan yang mampu menahan jiwanya ketika marah. Rasulullah   bersabda;

لَيْسَ الشَّدِيْدُ بِالصُّرَعَةِ ، إِنَّمَا الشَّدِيْدُ الَّذِيْ يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ.  
"Orang yang kuat itu bukanlah yang pandai bergulat, tetapi orang yang kuat ialah orang yang dapat mengendalikan dirinya ketika marah".  (HR. Al-Bukhari dan Muslim) 
6. Tidak memperturutkan amarah
Dari Abu Ablah berkata,”pada suatu hari, Umar Bin Abdul Aziz sangat marah kepada seseorang. Maka dipanggillah orang tersebut, ia dicambuk dan diikat dengan tali. Pada akhirnya, Umar Bin Abdul Aziz berkata,”bebaskan dia! andaikan aku marah, aku mampu menyakitimu lagi kemudian beliau membaca ayat”…dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema'afkan (kesalahan) orang…(QS. Ali Imran:14)”. Wallahu a’lam 
(Disarikan Dari Majalah Al-Furqan, Edisi 12 thn ke 15)                                      
Oleh: Arianto, S.Kom.I 

DALAM satu hadist disebutkan, “Besarnya pahala sesuai dengan besarnya cobaan, dan sesungguhnya apabila Allah mencintai suatu kaum maka Dia akan menguji mereka. Oleh karena itu, barangsiapa ridha (menerima cobaan tersebut), maka baginya keridhaan, dan barangsiapa murka maka baginya kemurkaan.” (riwayat Ibnu Majah)
Seorang hamba yang dicintai oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala, maka Dia menurunkan cobaan dan ujian serta musibah. Hamba yang ridha terhadap ujian dan cobaan dari-Nya, Allah pun ridha kepadanya dan mendapatkan pahala melimpah sesuai kadar musibahnya.
Allah menguji hamba-Nya di dunia ini bukan karena Dia membencinya, tetapi malah bertujuan untuk menolak bahaya yang akan menimpanya, menghapus dosa-dosa, dan untuk menaikkan derajatnya. Apabila ia menerima cobaan dengan sikap ridha, maka sempurnalah tujuan dari yang dikehendaki oleh-Nya.
Dalam sejumlah hadist disebutkan:
“Tiada seorang Muslim yang menderita kelelahan atau penyakit atau kesusahan, bahkan gangguan yang berupa duri sekali pun, melainkan semua kejadian itu akan menebus dosa-dosanya.” (Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam Shahih al-Bukhari).
“Rasulullah Shalallaahu ‘Alahi Wasallam bersabda, ‘Tiada seorang Muslim yang menderita sakit melainkan Allah akan merontokkan dosa-dosanya seperti daun-daun pohon yang dirontokkan’.” (Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam Shahih al-Bukhaari).
Hadist di atas merupakan kabar gembira yang besar bagi setiap Mukmin. Sebab, sifat manusia pada umumnya tidak tahan menerima sakit, sedih, dan lain-lain. Oleh karena itulah, sakit, lapar, dan sakit badan maupun sakit hati, bisa menghapus dosa-dosa orang yang tertimpa musibah tersebut.
Dalam hadist Qudsi disebutkan:
“Rasulullah bersabda, ‘Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, ‘Siapa yang kehilangan dua hal yang dicintainya, lalu ia bersabar dan ikhlas, maka Aku tidak ridha balasan baginya selain daripada surga‘.” (Shahih Sunan al-Tirmidzi, no. 1.959).
Dua hal yang dicintai yang dimaksud adalah kedua mata, sebab mata merupakan anggota badan manusia yang paling dicintainya. Walaupun ia kehilangan kedua matanya sehingga tidak bisa melihat apa yang diinginkannya, namun ia tetap mudah untuk melakukan kebaikan dan menjauhi yang buruk.
Ia tetap bersabar mengharap datangnya janji Allah yang akan memberikan pahala kepada orang yang bersabar, maka Allah akan menggantikan untuknya balasan yang terbesar yakni surga, sebab, kenikmatan melihat tidak dirasakannya ketika di dunia, namun kelezatan nikmat surga dirasakannya.
Pertama kali
Sabar sesungguhnya hanya ketika pertama kali seseorang mendapatkan musibah, sebagaimana diinformasikan dalam hadist:
“Rasulullah bersabda, ‘Sesungguhnya kesabaran itu adalah ketika pertama kali seseorang mendapatkan musibah’.” (Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam Shahih al-Bukhari).
“Rasulullah bersabda, Allah berfirman, ‘Hai manusia! Sesungguhnya apabila kau bersabar dan ikhlas ketika pertama kali mendapatkan musibah, maka Aku tidak ridha balasan untukmu selain daripada surga‘.” (Shahih Sunan Ibnu Majah No. indeks 1298).
Hadist di atas menunjukkan bahwa sabar yang berat bagi hati seseorang adalah ketika pertama kali seseorang tertimpa musibah dan terjadi secara tiba-tiba mengingat pahalanya yang besar, ketika itu ia pasrah dan menyerahkan segala urusan kepada-Nya. Hal tersebut menunjukkan kalbunva yang kuat dan kekokohannya dalam kedudukan sabar.
Hal tersebut berbeda dengan musibah setelah kejadian pertama kali, sebab setelah beberapa hari berlalu musibah itu, maka musibah yang panas pun akan menjadi dingin, sehingga setiap orang akan bisa bersabar menghadapinya. Sedangkan yang tidak sabar ketika pertama kali musibah terjadi, maka ia tidak berhasil meraih kesabaran yang diharapkan.
Oleh karena itu, ada sebagian ulama yang berpendapat, “Seorang yang berakal harus teguh (bersabar) ketika menghadapi musibah yang pertama kali terjadi, dan kesabaran setelah tiga hari hanya terjadi pada orang yang dungu.”*/Adnan Tarsha, dari bukunya Orang-orang yang Dicintai Allah.

SUATU ketika Hasan melewati seorang pemuda yang sedang tertawa, lalu ia berkata kepadanya: “Hai anakku, apakah Anda telah dapat lewat di atas sirath?” Pemuda itu menjawab: “Tidak.”
Hasan bertanya lagi: “Apakah nyata-nyata Anda akan masuk ke dalam surga?” Pemuda itu menjawab: “Belum.” Hasan berkata lagi: “Lalu Anda tertawa mengenai apa?” Maka setelah itu, pemuda tersebut tidak terlihat tertawa lagi.
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra., barangsiapa melakukan sebuah dosa sedang dia tertawa, maka dia akan masuk neraka dalam keadaan menangis.” Allah Subhanahu Wa Ta’ala memuji beberapa kaum sebab tangisan.
Allah berfirman: “Mereka menyungkur pada muka mereka sambil menangis.” (Al-Isra’: 109).
Allah berfirman: “Mengapa kitab ini tidak meninggalkan yang kecil dan tidak pula yang besar kecuali ia mencatat semuanya?” (Al-Kahfi: 50). Mengenai ayat tersebut Al-Auza’i berkata: “Yang kecil itu ialah tersenyum, sedang yang besar adalah tertawa terbahak-bahak.”
Nabi Shalallaahu ‘Alahi Wasallam bersabda: “Pada hari kiamat, semua mata akan menangis, kecuali tiga mata, yaitu: mata yang menangis karena takut kepada Allah; mata yang terpejam dari keharaman-keharaman Allah; Dan mata yang terjaga di jalan Allah.”
Dikatakan: “Ada tiga hal yang membuat hati menjadi keras, yaitu tertawa dengan tanpa ada hal yang menakjubkan, makan dengan tanpa kelaparan dan berbicara tanpa ada hajat dan keperluan.”
Rasulullah selalu memakai pakaian sederhana dan apa adanya. Pakaian beliau ada yang berupa kain sarung, selendang (serban), baju gamis, jubah dan yang lain. Warna pakaian favorit beliau adalah hijau dan putih, namun kebanyakan pakaian beliau berwarna putih.
Mengenai kain warna putih itu beliau bersabda: “Pakaikanlah ia pada orang-orang hidup dari Anda dan kafankanlah pada orang-orang yang mati di antara Anda.”
Rasulullah memiliki qaba’ (jenis pakaian luar) dari sundus (sutera tipis). Beliau memakainya dan sangat indah kehijauannya pada kulit beliau yang putih. Semua pakaian beliau adalah tersingsing di atas kedua buah mata kaki, sedang kain sarung berada di atas mata kaki sampai pertengahan betis.
Beliau pernah memiliki kisa’ (jubah) hitam, lalu beliau menghibahkannya. Kemudian Ummu Salamah berkata: “Demi ayah dan ibuku sebagai tebusan bagi Anda, engkau belum pernah memakainya (mengapa engkau menghibahkan?) kisa’ hitam itu?” Beliau bersabda: “Aku telah memakainya.” Ummu Salamah berkata: “Aku tidak pernah melihat keindahan yang lebih indah daripada keputihan (kulit) Anda pada warna hitaman ini.”
Adalah Nabi Muhammad apabila memakai pakaian, beliau selalu memakainya dari sisi kanannya. Dan beliau membaca: “Segala puji bagi Allah yang telah memberi aku pakaian sehingga dapat menutup auratku dan aku menjadi mulia dalam kalangan manusia.”
Dan apabila beliau melepas pakaiannya, beliau memulainya dari sisi kirinya. Apabila beliau memakai pakaian baru, maka memberikan pakaian bekasnya kepada orang miskin, lalu bersabda: “Tidak ada seorang muslim yang memberi pakaian seorang muslim yang lain dari pakaian bekasnya, dan tidaklah dia memberinya pakaian itu kecuali karena Allah, ia menjadi berada dalam tanggungan Allah, dalam pemeliharaan dan kebaikan-Nya. Selama pakaian itu dipakai dan menutupi aurat orang yang diberi itu, baik dia hidup atau mati.”
Nabi Muhammad memiliki baju `aba’ah yang biasa dihamparan dan dibawa berpindah-pindah dan dapat dilipat secara praktis. Beliau terkadang tidur di atas (beralaskan) tikar tanpa ada lapisan apapun lagi di bawahnya.”*/Imam al-Ghazali, dari bukunya Menyingkap Rahasia Qolbu.

ALLAH Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
“Maka apakah kamu merasa heran terhadap pemberitaan ini? Dan kamu menertawakan dan tidak menangis sedang kamu melengahkan(nya)?” (An-Najm: 59-61).
Sebagian ahli tafsir berkata: “Sungguh mengherankan, mereka begitu mendustakan Al-Qur’an, mereka menertawakannya dengan nada meremehkan, padahal Al-Qur’an adalah dari Allah. Mereka tidak menangis karena takut terhadap ancaman Al-Qur’an, padahal mereka melengahkannya dan melalaikan tuntutannya.”
Sebagian para mufassir berkata, setelah ayat ini turun Nabi Muhammad Shalallaahu ‘Alahi Wasallam tidak pernah tertawa, melainkan hanya tersenyum.” Juga dalam sebuah riwayat dikatakan, setelah ayat tersebut turun Nabi Muhammad tidak tertawa dan tidak pula tersenyum sampai beliau meninggalkan dunia.”
Dari Ibnu Umar ra., ia berkata, pada suatu ketika Nabi Muhammad keluar dari masjid, beliau bertemu dengan sekelompok manusia sedang bercakap-cakap dan tertawa ria. Lalu beliau berhenti dan memberi salam pada mereka, kemudian bersabda: “Hendaklah Anda banyak mengingat penghancur kelezatan (kematian).”
Pada saat yang lain beliau keluar, tiba-tiba beliau bertemu dengan suatu kaum tertawa-tawa, lalu beliau bersabda: “Perhatikanlah, demi Tuhan yang jiwaku ada di tangan-Nya, seandainya Anda mengetahui apa yang aku ketahui, tentu Anda akan tertawa sedikit dan banyak menagis.”
Ketika Nabi Khidhir menghendaki berpisah dengan Musa as., Musa berkata kepadanya: “Berilah nasihat kepadaku.” Nabi Khidhir berkata: “Hati-hati terhadap sombong dalam berbantah, janganlah Anda berjalan dengan tanpa adanya hajat dan keperluan, janganlah tertawa dengan tanpa hal yang menakjubkan, janganlah mencela orang-orang bersalah dengan kesalahan mereka dan menangislah atas kesalahan diri Anda sendiri.”
Nabi Muhammad bersabda: “Banyak tertawa membuat hati mati.”
Nabi bersabda: “Barangsiapa yang tertawa pada masa mudanya, dia akan menangis pada masa pikunnya. Dan barangsiapa yang tertawa pada masa kayanya, dia akan menangis pada masa miskinnya. Dan barangsiapa yang tertawa pada masa hidupnya, maka dia akan menangis pada waktu matinya.”
Nabi Shalallaahu ‘Alahi Wasallam bersabda: “Bacalah Al Qur’an dan menangislah. Jika Anda tidak dapat menangis, maka tangis-tangiskanlah.”
Firman Allah: “Maka hendaklah mereka tertawa sedikit dan menangis banyak, sebagai pembalasan dari apa yang selalu mereka kerjakan.” (At-Taubah: 82 ). Yakni, tertawa di dunia dan menangis di akhirat.
Hasan (kalangan Tabi’in) berkata: “Mengherankan, orang yang tertawa sementara di belakangnya terdapat neraka dan sungguh mengherankan orang yang bergembira ria, sementara di belakangnya terdapat kematian.”*/Imam al-Ghazali, dari bukunyaMenyingkap Rahasia Qolbu.

RASULULLAH Shalallaahu ‘Alahi Wasallam adalah orang yang paling banyak bersedekah dengan apa pun yang beliau miliki. Beliau tidak meminta lebih banyak dari apa yang diberikan Allah untuk beliau dan beliau juga tidak pernah memandang sedikit pemberian-Nya.
Tidaklah seorang pun meminta sesuatu yang beliau punya, baik sedikit maupun banyak, melainkan beliau akan memberikannya. Pemberian beliau itu ialah pemberian seseorang yang tidak takut akan kemiskinan.
Bersedekah dan memberi hal yang paling disukai Rasulullah. Kebahagiaan dan kesenangan beliau dengan sesuatu yang diberikan kepadanya, lebih besar dari kebahagiaan orang yang menerimanya.
Beliau ialah orang yang paling dermawan untuk suatu kebaikan. Tangan kanan beliau seperti angin yang berhembus. Bila seseorang memerlukan uluran tangan dan mendatangi beliau, beliau niscaya mendahulukan orang itu daripada diri beliau sendiri. Terkadang dengan memberinya makan, hadiah, atau dengan membeli sesuatu lalu memberikan barang tersebut sekaligus uangnya kepada si penjual.
Beliau juga terkadang meminjam sesuatu, lalu mengembalikannya lebih banyak, lebih baik, atau lebih besar. Beliau biasa membeli sesuatu dan memberi harga lebih tinggi dari harga barang. Beliau menerima hadiah dan membalasnya dengan yang lebih baik dan berlipat ganda sebagai suatu tindakan kasih sayang serta variasi dalam berbagai wujud sedekah dan kebajikan dengan segala kemungkinannya.
Beliau menyedekahkan apa pun yang beliau punya dengan kondisi dan dengan sabda beliau, hingga beliau memberikan segala yang ada, memerintahkan untuk bersedekah, dan menganjurkannya. Beliau mengajak dengan tindakan nyata dan sabda. Bila ada orang pelit dan kikir memandang beliau, niscaya kondisi beliau akan mendorongnya untuk memberi dan berinfak. Orang yang bersahabat serta bergaul dengan beliau dan melihat petunjuk beliau, pasti tidak akan mengekang jiwanya untuk berlaku dermawan dan kebajikan. Karena itulah, Rasulullah ialah orang yang paling murah hati, paling bersih jiwa, serta paling lembut perasaannya karena sedekah dan kebajikan memiliki pengaruh yang sangat besar untuk lapangnya hati.
Mu’adz bin Jabal r.a meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda, “Sedekah itu menghapus kesalahan sebagaimana air memadamkan api.“ (At-Turmudzi).
Ibnu Abbas r.a meriwayatkan:
“Rasulullah ialah manusia yang paling dermawan dan beliau sangat dermawan di bulan Ramadhan saat bertemu Jibril. Jibril menemui beliau setiap malam di bulan Ramadhan, Jibril mengajarkan Al-Qur’an, dan sungguh Rasulullah ialah manusia yang paling dermawan dengan kebaikan melebihi angin yang berhembus.” (Al-Bukhari dan Al-Muslim).
Jabir r.a meriwayatkan:
“Tidaklah pernah sama sekali Rasulullah diminta sesuatu, lalu beliau bersabda tidak.” (Muttafaq Alaihi).
Anas r.a meriwayatkan:
“Tidaklah Rasulullah diminta sesuatu atas keislaman, melainkan beliau akan memberikannya. Seseorang mendatangi beliau, lalu beliau memberikan domba padanya yang ada di antara dua gunung. Lantas orang tersebut kembali kepada kaumnya seraya berkata, ‘Wahai kaumku, masuklah kalian ke dalam Islam karena Muhammad itu memberikan sesuatu kepada orang tanpa takut akan kemiskinan.”‘ (HR Muslim).
Aisyah r.a meriwayatkan:
“Para shahabat menyembelih seekor domba, lalu Nabi bersabda, ‘Masih adakah sisanya?’ Aisyah berkata, ‘Tidak tersisa apa pun selain bahunya saja.’ Beliau bersabda, ‘Semuanya masih ada kecuali bahunya.” (At-Tirmidzi). Artinya, akan tersisa untuk kita di akhirat kelak, kecuali pundaknya saja.
Ibnu Jarir meriwayatkan bahwa Sahl bin Sa’ad berkata, “Seorang wanita mendatangi Nabi dengan membawa pakaian berupa mantel yang berbordir. Wanita itu lalu berkata, ‘Wahai Rasulullah, saya datang untuk memberikan pakaian ini pada Anda.’ Rasulullah mengambilnya dan memang beliau sangat memerlukannya. Kemudian mantel itu dilirik oleh salah seorang shahabat. Ia berkata, ‘Wahai Rasulullah, indah sekali mantel itu. Berikan mantel itu padaku.’ Beliau pun memberikannya.
Ketika Rasulullah telah pergi, para shahabat lain mencelanya seraya berkata, ‘Kau tidak bersikap baik saat melihat Rasulullah mengambil mantel pemberian wanita itu karena beliau sangat memerlukannya lalu kau memintanya. Padahal kau tahu, kalau Nabi tidak pernah menolak orang yang meminta pada beliau.’
‘Shahabat itu pun berkata, ‘Demi Allah, tidak ada yang mendorongku untuk melakukan hal itu melainkan karena aku berharap keberkahannya ketika telah dipakai oleh Rasulullah. Dan saya berharap mantel itu menjadi kain kafanku nanti.'”
Ibnu Mas’ud r.a meriwayatkan, “Nabi mengunjungi Bilal dan ia memiliki setumpuk gandum. Beliau bersabda, ‘Apa ini wahai Bilal?’
Ia menjawab, ‘Saya menyimpannya untuk para tamu Anda.’
Beliau bersabda, ‘Tidakkah kau takut ia hanya akan menjadi asap di neraka Jahanam? Infakkan wahai Bilal dan janganlah engkau takut miskin pada Zat Yang memiliki ‘Arsy’.” (HR Al-Bazzar dan Ath-Thabrani dari Abu Hurairah).
Sabda beliau, “Dan janganlah engkau takut miskin pada Zat Yang Memiliki ‘Arsy.” ialah sebagai wujud keyakinan dan kepercayaan kepada Allah, berprasangka baik kepada-Nya, dan bertawakal kepada-Nya diiringi dengan melakukan perantara dan usaha.
Abdullah bin Abbas r.a meriwayatkan bahwa Abu Dzarr berkata kepadanya, “Wahai keponakanku, saya pernah bersama Rasulullah dengan memegang tangan beliau. Beliau bersabda kepadaku:
‘Wahai Abu Dzarr, saya tidak ingin memiliki emas dan perak sebesar gunung Uhud lalu saya infakkan di jalan Allah kemudian saya meninggal pada saat ajalku tiba dengan meninggalkan sedikit harta.’ Saya bertanya, ‘Bagaimana dengan harta yang banyak?’ Beliau menjawab, ‘Wahai Abu Dzarr, saya memilih yang sedikit, sedangkan engkau memilih yang lebih banyak. Saya menginginkan akhirat, sedangkan engkau menginginkan dunia. Cukuplah bagimu harta yang sedikit saja.’ Beliau mengulanginya sebanyak tiga kali padaku.” (HR Ath Thabrani, Al-Bazzar, dan al-Haitsami).*/Hasan bin Ahmad Hammam, dari bukunya Terapi dengan Ibadah.

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.