Articles by "Kisah"

Tampilkan postingan dengan label Kisah. Tampilkan semua postingan

Fenomena Baru Gerakan Islam Indonesia

Shalat Jumat berakhir pukul 12.00 lebih. Lautan manusia berbaju putih ini membubarkan diri tanpa ada keributan dengan aparat sebagaimana layaknya pengerahan massa. Bahkan seluruh taman dan jalan tetap terjaga rapi tanpa ada sampah berserakan.
Tim INA yang disebar di banyak titik menyaksikan langsung, gelombang umat Islam datang dari berbagai propinsi ini bahkan banyak yang tidak mampu masuk ke senayan.  Masih massa masih tertahan di berbagai tempat, termasuk di Senin, Cikini, Gondangdia, Bundaran HI.
“Tidak ada aksi apapun yang pernah saya lihat sebesar ini. Tuh orang pade salah, harusnya ke Monas jalan ke depan, eh dia malah kebalik ke belakang. Saya bilang, Monas kesono no, ente kebalik,” ujar Habi Obeng (65), warga Sabang, kawasan lebih dekat dengan Monas.
Inilah shalat Jumat terbesar di dunia. Sebagian mencatat, massa diperkirakan mencapai lebih dari 4 juta orang.
Kemuning senja menyapa lembut Ibu Kota. Lembayungnya menaungi jutaan umat yang mulai kembali pulang, membawa berjuta kisah dan seruang rindu. Kerinduan yang seketika memenuhi rongga dada, membuncah. Kenangan yang bekelebat hebat, seakan ingin kembali berulang.
Jutaan orang mulai beringsut meninggalkan Monas dan sekitaranya. Namun bekasnya masih menyisahkan kesan mendalam bagi banyak orang termasuk Kholili.  Setidaknya ada dua hal penting ia catat.
Aksi 212 menunjukkan kualitas ukhuwah umat Islam.  Sebab jika Islam itu ditegakkan, jangankan manusia, hatta, hewan dan tanaman akan mendapat rahmatnya. Bukan ‘rahmatan lil alamin’ yang sering digembar-gemborkan di media, namun dalam aksinya justru menyakit umat Islam sendiri. Aklak itulah yang ditunjukkan dalam Aksi Bela Islam III.
“Inilah kualitas sebenarnya umat Islam, kualitas hati yang merupakan cermin iman,” ujarnya.
Kedua, aksi 212, melalahirkan gerakan baru Islam Indonesia akibat  getaran Surat Al-Maidah. Setelah sekian lama umat Islam didzalimi, ulamanya dibully, agamanya dicela, informasinya dikaburkan media, tetapi atas kehendak Allah, sebuah kelompok yang kecil – yang sangat tidak popular bahkan telah lama disematkan padanya panggilan-panggilan dan cap buruk – qadarallah, ditunjukkan Allah mampu menghimpun jutaan orang dengan aksi sangat terpuji.
“Maka Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela,” ujar Kholili mengutip Surat Al-Maidah: 54.
Inilah fenomena baru yang tidak pernah dibayangkan oleh teori akademis apapun di Indonesia.
“Saya yakin, di tangan orang-orang yang sabar dan pecinta Al-Quran, yang tidak takut celaan orang yang mencela inilah janji rakhmat Allah akan turun dan Indonesia akan terjaga.[]


Kisah lain datang dari Surabaya.  Hari itu, Pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur,  Ainul Yaqin berangkat ke Jakarta dengan penerbangan pertama pagi hari saat hari Jumat 02 Desember 2016, tepat Aksi Super Damai belangsung.
“Yang saya kaget, saat kami turun di bandara, ratusan orang yang tadi di pesawat, tiba-tiba semua berganti baju putih-putih saat turun di bandara. Subhanallah, rupanya tadi satu pesawat itu tujuannya sama,” ujarnya Pengurus Wilayah MUI Jawa Timur ini menceritakan pengalamannya.
Ada pula Ibu Sri, seorang nenek berusia 72 tahun asal Surabaya, yang mewajibkan kelima anaknya untuk ikut Aksi Bela Islam.
”Di usia ini, saya sendiri sudah siap mati untuk membela agama, apalagi kalau al Quran kami dinista,” katanya sambil mengepalkan tangannya.
Yang tak kalah menakjubkan, adalah pemandangan mata seorang santri Ma’hadul Qur’an wal Qiroat az-Zikra bernama Anugerah. Di tengah keterbatasan fisiknya, ia bahkan merangkak dari rumahnya untuk datang ke Monas.
Karena mengalami keterbatasan fisik, (maaf) ia harus berjalan dengan kedua tangan dan kedua kakinya menuju Monas. Tak ada rasa lelah atau meminta bantuan, Anugerah ikut merapatkan barisan bersama sedikitnya lebih 2 juta umat Islam lainnya.
“Karena saya penghafal Qur’an, dan insya Allah al-Qur’an sudah menyatu dengan hidup dan diri saya. Jadi, jika saya enggak ikut Aksi Super Damai 212 kemarin, saya merasa diri ini sangat terhina,” ungkapnya penuh semangat saat berbincang dengan Islamic News Agency (INA).
Yang menjadi pertanyaan, jika bukan karena Allah, siapa mampu menggerakkan semua ini?
Monas Rasa Makkah
Aksi Bela Islam III atau popular disebut Aksi 212 (mengabadikan peristiwa aksi tanggal 02 Desember 2016) selain membangkitkan gerakan massa Islam di seluruh Indonesia untuk datang di Jakarta, juga melahirkan solidaritas ukhuwah antar elemen Islam tanpa melihat status, latar-belakang dan menghilangkan sekat perbedaan yang selama ini sering terjadi.
Hal ini dirasakan peneliti Ahmad Kholili Hasib, peneliti pada Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations (INSISTS) yang menyaksikan langsung selama aksi di Monas.
Penulis muda asal Bangil Pasuran Jawa Timur itu sengaja datang dari kampungnya datang dan menyaksikan langsung acara yang sebelumnya telah banyak digembosi polisi, tokoh ormas bahkan media massa dengan berbagai tuduhan kurang nyaman ini.
Dari Menteng, usai shalat Subuh ia bersama rombongannya berjalan menuju lokasi. Tepat  pukul 05.00,  ia  mendapati 20 orang anak muda, usianya 20 tahunan berjalan dari Cikini meneriakkan Allahu Akbar berkali-kali. Saat  bertemu dengan jamaah lain mereka menunjukkan sikap hormat, bersalaman dan lempar senyum. Padahal mereka tidak saling kenal.
Ia makin kaget, satu jam berikutnya, rombongannya yang semula hanya dengan puluhan orang, tiba-tiba membengkak saat  melewati depan Gedung Proklamasi.
Ribuan orang keluar dari gang-gang, gedung, bergabung dengan gelombang orang di depannya bergerak perlahan dari Jalan Diponegoro, Stasiun Gondangdia sampai Cikini. “Barisan kami bertambah panjang,” ujarnya.
Yang menakjubkan, selama perjalanan menuju Monas, ia menyaksikan ratusan orang yang tidak saling mengenal itu saling tebar senyum saling sapa, saling berbagi, saling beramal dan saling mengingatkan. Suasanya mirip umrah dan haji di Tanah Suci Makkah al Mukarramah.
”Ini benar-benar seperti suasana haji, bahkan lebih,” kata seorang bapak sambil menenteng poster “Tangkap dan Penjarakan Ahok!”.
Jika di Makkan orang banyak berbagi khas makanan Arab, di sini, ratusan orang (bahkan ribuan) tak henti-hentinya memberikan hidangan entah datang dari mana.
Pantauan INA, mendekati Monas, suasana semakin kentara.Dari balik kawat di seberang tenda ada yang berbagi nasi ayam, minuman gratis, jus, roti, sampai pijat gratis. Semuanya ada.
”Ayo siomay gratis,” kata si ibu depan Mc. Donald Thamrin menyeru, segera dikerubuti ratusan orang. Di ujung Pejambon, seorang polisi muda tak nampak malu mengambil air minum dan makanan dari para peserta aksi damai. Di depan Gambir, Ibu-ibu asal Bekasi membagikan gerombolan anggur merah yang masih mengkilap.
Di antara silang Monas, seorang pedagang gerobak berurai air mata. Tiba-tiba seseorang membeli semua dagangannya dan meminta membagikan secara gratis.
”Baru sekarang ini saya melihat kejadian seperti ini,” katanya.
Ormas Islam membagikan makanan kepada peserta aksi. [Foto: Sobah] 
 Pejaja asongan perintil kacang, hingga mangga plus garamnya tak ketinggalan bajir rezeki. Di sudut-sudutnya, seorang tentara lahap bersantap bersama para laskar.
”Kalau kaya gini nggak bakal ada yang kelaparan kehausan, padahal massa ada jutaan,” kata Tukang Mie Ayam yang sudah diborong.
Semilir angin lembut berkawan langit cerah benar-benar membuat suasana semakin hangat. Zikir dan doa terlantun, menembus kaki langit, hingga hujan, yang menurut sang Nabi adalah rahmat itu turun mengguyur lembut setiap jengkal sekitar Monas membuat suasana begitu syahdu.
Tua, muda, artis, pejabat, karyawan, pengusaha, dosen, dokter, mahasiswa, peneliti hingga beragam suku dan daerah tumplek blek semua dengan satu kesadaran: Membela al Quran yang dinista.
”Sebagian dari kita tinggalkan sanak saudara, keluarga rela jauh-jauh ke sini. Kami hanya ingin keadilan, agar si penista segera ditahan hari ini juga,” kata pria asal Ambon kita, Irmansyah.
Jika di Makkah, orang berbondong-bondong menangis di kaki Ka’bah, kita melihat di sini mereka bersimpuh bermunajat di kaki langit. Wisata ruhani yang menggetarkan jiwa, begitu nikmat ketika harus bersujud, berjalan kaki tanpa beban dalam tawaf hingga sai di Shafa dan Marwa. Hanya kedunguan yang tersisa bila ada yang mengatakan mereka yang tulus memenuhi panggilan jiwa yang tak ternila itu dibayar dengan secuil materi.
”Saya saja ongkos sekali jalan 1,6 juta, itu uang pribadi saya, gimana dibayar, saya yang malah keluar uang,” kata Irmansyah. Ibu Sri, nenek asal Surabaya kita pun mengatakan total lebih dari 15 juta terpakai bersama anak-anaknya untuk berangkat.
Dengan ketulusan, setiap peserta yang berlelah-lelah, baik secara fisik maupun materi, dapat melakukannya tanpa beban apapun. Menaiki pesawat, menaiki bus, bersepeda motor bahkan berjalan kaki, menyambut para tamu, berbagi makanan, berdoa, berzikir, menangis, semua melaluinya dengan tulus tanpa bergantung pada siapapun kecuali pada sang Maha Esa.
“Aksi 212 memiliki energi luar biasa. Salah satu yang nampak adalah energi persaudaraan Muslim. Kaum Muslimin dari berbagai latar belakang organisasi, pendidikan, profesi, jama’ah, dan  suku  yang berbeda seperti saudara kandung,” ujar Kholili.
Suasana ini, menurut Kholili, mengingatkannya pada pesan hadits dari Rasululllah Shallahu ‘Alaihi Wassallam yang berbunyi, “Ruh-ruh itu ibarat prajurit yang dibaris-bariskan. Yang saling mengenal di antara mereka pasti akan saling melembut dan menyatu. Yang tidak saling mengenal di antara mereka pasti akan saling berbeda dan berpisah.”
Di mana kita akan melihat shalat Jumat terbesar sepanjang sejarah umat ini? Yang sesaknya memenuhi jalanan protokol ibu kota mengular empat sisi Monas, Patung Kuda, Budi Kemuliaan, Tanah Abang,  Medan Merdeka Selatan, Istiqlal, Kwitang, Pasar Baru, Senen, Tugu Tani, Haji Agus Salim, Menteng,  hingga Thamrin dan massa yang terus berdatangan dari Bundara HI tak henti-henti.
Karena membludaknya massa, disulap sudah, perkantoran hingga Kafe Starbucks Coffee Sarinah seberang McD hingga kantor-kantor menjadi shaf-shaf shalat yang rapat hingga tangga-tangganya. Tak kuasa, air mata gerimis. Ya Rabb, hingga di kafe –kafe itu, semua menjadi tempat sujud!
”Kapan lagi kita bisa bergabung bersama jutaan kaum muslimin di sini,” kata seorang karyawan berbaju batik yang sehari-harinya ngantor di sekitar Sarinah. Ia biarkan dirinya dalam kuyup bersama air yang terus mengalir.
Tak terasa, jutaan tetesnya membasahi jutaan manusia di atas jalanan di bawah naungan kumandang azan Jum’at dua kali menggantung di atas langit Ibu Kota. Syahdu. ”Kalau nggak ada hujan, semua di jalan, nggak sampai di kantor-kantor dan kafe, bisa sampai HI ini,” kata seorang warga sambil menunjuk Hotel Grand Indonesia yang nampak selempar mata memandang dari Sarinah.
Suasana semakin syahdu ketika hujan semakin deras mengguyur, bersahutan dengan khutbah Habib Rizieq utamanya tentang surat Al Maidah dan penistaan agama.
[Foto: Rifa’i Fadhly]
 Pemandangan dramatis kembali berulang. Tak gentar sejengkal pun massa akan lebatnya hujan. Semua bergeming, semakin banyak barisan terisi. Semua duduk beralas apa saja, bahkan beralaskan aspalt yang mengkilap mengalirkan air.
Di buntut shaf, selemparan batu dari Sarinah, tiga orang bocah kuyup badannya dengan poni mengkilat berjejer rapi di jidatnya. Lipatan baju putihnya mengkerut bak kerupuk disiram, sedangkan celana merahnya dibiarkan menampung guyuran air dari langit.
Sembab matanya, tapi bukan karena hujan. Kakinya menekuk, bersimpuh kepada sang Maha. Ya Rabb, anak SD mana yang rela berbasah-basah beralas secompang kardus basah selebar kening mereka? Dan kini semua itu nyata!
Semua hanya bisa tergugu. Air mata tak terasa tumpah berkali-kali, menyaksikan kekuasaan sang Maha, melihat umat yang begitu syahdu. Orang tua mana yang begitu bangga melihat anak-anaknya ini bermunajat Dengan khusyuk ? Anak-anak berseragam merah-putih ini mendengarkan ceramah dengan mata yang bukan lagi berkaca, tapi sudah mendanau.
Momen yang tak mungkin dijangkau oleh nalar. Ketika jutaan manusia bergeming, bermunajat, membiarkan dirinya kuyup oleh limpahan ramhmatNya. Tangannya terangkup berdoa, para anak yang dengan syahdu terisak, air mata dan hujan sudah tercampur baur.
Ketika semua menyemut syahdu, merintih dalam berdiri, rukuk dan sujud. Hujan semakin lebat, selebat tangis yang pecah ketika imam membaca surat al Maidah hingga Qunut nazilah yang begitu panjang.
“Sekarang kita membela al Quran, kelak al Quran semoga menjadi pembela kita di hari Kiamat,” ujar Ustad Arifin Ilham dari panggung utama.
Meski hujan menunjukkan janjinya, namun lautan wajah dalam balutan baju putih-putih itu tak sedikitpun menampakkan wajah ‘mendung’. Sebaliknya, guyuran hujan justru disambut senyum dan kekhusukan jutaan massa. Semua bergembira kegirangan. Shalawat serta salam menggema mengisi ruang di antara belantara beton penantang langit ibu kota.
Sayup-sayup terdengar senandung rindu menyesakki seluruh jalanan Ibu Kota dari Thamrin hingga Sudirman di Bundaran Indonesia.
“al Quran imam kami…al Quran pedoman kami…al Quran petunjuk kami…al Quran satukan kami…!”
“Aksi Bela Islam, Aksi Bela Islam, Aksi Bela Islam Allah Allahu Akbar”
“Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar Allah Allahu Akbar!”
”Ini semacam hadiah umat Islam Indonesia bahwa mereka benar-benar mencintai agamanya, mencintai negerinya, dan mereka berdoa untuk negeri,” kata seseorang peserta sambil mengusap air matanya.
Aksi simpatik ini berakhir usai shalat Jumat dengan imam dan khatib Imam Besar FPI dan Ketua Dewan Pembina Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Majelis Ulama Indonesia (GNPF MUI)  Habib Rizieq Shihab  dengan muazin Kapolres Cirebon Kota, AKBP Indra Jafar. Dalam khutbahnya, Rizieq menyampaikan datangnya jutaan umat Islam dalam Aksi Bela Islam III sebagai karunia Allah. Mereka datang untuk memuliakan Al-Quran, bukan untuk menghancurkan NKRI. Sebab Al-Quran adalah jantung dari agama Islam.
“Hari ini jutaan umat Islam datang ke Jakarta bukan untuk menghancurkan NKRI, justru untuk membela NKRI, membela Al-Quran, kebhinekaan yang koyak,” ujar Rizieq.* (BERSAMBUNG)

HAJI Ahmad Djuwaeni menangis setelah menapaki perjalanan menembus lautan manusia. Di atas kursi rodanya, kakek berusia 82 tahun ini masih tepekur seakan tak percaya dengan apa yang dia lihat dengan mata berkaca-kaca. Beberapa kalinya dirinya memekikkan takbir, walau tak segagah dahulu kala. Ada sesuatu, entah apa itu yang membuat matanya sembab, yang mengalir bak air di sungai melewati keriput di pipinya. Dengan tertatih-tatih, suara bergetar, ia membuka mulutnya seraya setengah berbisik,” saya nggak mau ketinggalan urusan begini,” katanya kepada Islamic News Agency (INA), (2/12/2016).
Berempat, bersama sang anak dan mantu, ia datang memenuhi panggilan jiwanya, walau tak lama pulang dari rawat inap. “Saya masuk ICU 4 hari, lalu 5 hari dirawat, sengaja baru bisa keluar langsung ke sini, selama fisik memungkinkan, masih bisa bergerak, meski dipaksa menggunakan kursi roda,” lirihnya.
Firmansyah sang mantu sambil mendorong kursi roda sang mertua mengisahkan bahwa justru anak-anaknya diminta untuk ikut aksi. “Sempat ada rasa khawatir, tapi tekad bapak mengalahkan rasa sakitnya, semangatnya bahkan melebihi kami,” katanya.
Kini, tak kuasa menahan haru, Haji Ahmad Djuwaeni nampak mematung berdoa khusyuk di punggung pelataran Monas. “Ya Rabb, Engkau sendiri yang memutarkan sejarah ini, kini umatMu bangkit untuk memenuhi seruanMu, Engkau perlihatkan doa yang terus hamba panjatkan tiap malam, agar umat Islam Indonesia bangkit,” lirihnya.
“Terlihat ruhud din yang selama ini antara hidup dan mati mulai bangkit,” khusyuk. Tak terasa air mata tertumpah, bagi siapa yang melihatnya menangis berdoa. Di pengujung senjanya, ada rasa yang bercampur aduk: sedih, senang, haru, gembira: rasa yang tak tergambarkan.
Yang mengaduk-aduk rongga dada, naik perlahan ke atas, dengan nafas yang tak beratur, berkumpul di sudut mata hingga gerimis itu tak hanya dari atas langit, gerimis itu turun dari mata. Dan lihatlah, kini seorang kakek di pengujung usia senjanya, datang walau tak bisa berjalan kaki.
“Saya rela meninggal dalam keadaan berhijad, ya Allah, mudah-mudahan acara ini membangiktkan untuk izzul islam dan muslimin, ya Allah kabulkanlah,” terbata-bata karena tak kuasa menahan tangis.
“Tak kuasa manusia mengumpulkan massa sebanyak ini, kalau bukan karena panggilan iman, mereka tidak akan bersusah payah ke sini,” tutupnya sambil tersenyum simpul dengan bola mata yang berkaca-kaca kering sudah tangisnya keluar.
Aksi Bela Islam selalu memberikan kesan tersendiri bagi siapa pun yang pernah mengikutinya, meskipun mewujud dalam variasi yang kadang sulit diungkapkan dan dijelaskan dengan kasatkata. Tak pernah terbayang memang, bagaimana ribuan orang rela berpeluh, mengadu nyawa, berjalan kaki dari Ciamis hingga Jakarta. Sebagaimana dilakukan Haji Nonof bersama santrinya rela jalan kaki hingga tindakannya memberi inspirasi banyak orang di seluruh Indonesia.
”Pelarangan-pelarangan tidak akan menyurutkan langkah kami,” ujar Ketua Kafilah Ciamis, Haji Nonof Hanafi saat tiba di Bandung setelah menyusur 120 KM melewati malam-malam panjang.
Luar biasa. Perjalannya menuju Jakarta telah membuat ribuan orang di setiap perjalanan memberikan simpati dan applaus. Tak sedikit  tangisan warga tumpah ruah meluber sepanjang jalan yang menyambut bak pahlawan besar.
Pantauan INA dalam perjalanan, dari balik kaca jendela, di sudut sekolah, selama jalan mereka lalui dalam perjalanan menuju Jakarta disambut tangis haru seraya melambaikan tangan.
Warga menyambutnya degan tulus. Ada yang membawakan setandan pisang, sekarung bonteng (timun), hingga keresek berisi buah-buahan yang baru dipanen dari kebunnya.
Sambutan tumpah ruah, bak mengiringi pasukan perang. Hadiah bunga, air mineral, sendal, dan lainnya, ada yang bangga menenteng karton coretan tangan pesan sambutan mereka: “Selamat Berjuang Para Pembela al Quran”.
Berbondong masyarakat merindu. Tak usah tanya sebanyak apa makanan yang menggunung hingga puluhan truk, kekuatan hati telah menggerakkan mereka. ”Mereka adalah para pembela al Quran, apapun akan kita lakukan oleh mereka,” kata seorang warga Bandung sambil menangis.
Setiap kafilah melewati warga, selalu saja air mata tak bisa tertahan. Bak pahlawan – dan memang pahlawan-, sorak takbir mengiringi perjananan menuju Cianjur hingga akhirnya mereka bisa tiba di Jakarta tanggal 2 Desember 2016, sekira pukul 09.00. Sekarang, kita akan melihat pemandangan yang begitu dramatis.
Detik-detik ketika mereka melewati Thamrin hingga menembus lautan manusia di kolam Bundaran Bank Indonesia hingga masuk ke Monas. Satu per satu wajah coklat yang tersengat sinar mentari ini tiba. Wajah yang didominasi para belia.
Menyipit matanya, tetiba saja air mata tertumpah ruah.Tangis pecah bersedu-sedu.
Huuuu….uuu…uu,” suara massa menangis sesenggukan tak bisa berhenti. Sebagian jurnalis, sambil menyorot mereka dengan kamera SLRnya tak kuasa menahan air mata  yang sudah mengucur deras melewati dagunya. ”Allahu Akbar..Allahu Akbar..Allahu Akbar..saudara kita dari Ciamis telah tiba,” menggemuruh.
Hujan yang Mengagumkan pada Aksi Super Damai 212
Semua larut dalam haru. Semua tergugu. Kafilah Ciamis, hanyalah orang-orang biasa dari sudut kampung nun jauh di sana. Tapi, apa yang dilakukannya dapat menggetarkan jutaan manusia dari penjuru negeri. Sambil terus berjalan, tangis haru menemani mereka menembus lautan manusia.
Berdatangan massa, bersimpuh, segera memeluk saudara-saudara mereka: erat. Lama mematung, tangis itu kian menggedor-gedor emosi. Seorang kakek peserta jalan kaki dengan surban kumalnya menerima sekuntum bunga merah sambil mengusap sudut matanya walau ia tahu itu tak kan membuatnya berhenti menangis.
”Sunnguh! Perjuangan kalian tidak sia-sia,” histeris seorang penyambut sambil memeluk erat-keras pemuda-pemuda Ciamis yang tak seorang pun dikenalinya. Pekik takbir bercampur tangis terus berbaur mengiringi kafilah ini hingga ke panggung utama. Akhirnya, wajah yang selama ini hanya beredar di medsos, kini berbaur di antara jutaan massa aksi.
”Ciamis mengubah segalanya,” kata Riwa, seorang peserta aksi asal Riau yang rela menghabiskan sebulan gajinya agar bisa datang ke Aksi Damai Bela Islam di Jakarta.
”Kami benar-benar malu kepada mereka,” katanya. Tak hanya Riwa sendiri, mungkin kita sendiri merasakannya.”

Bola Salju Ciamis
Aksi jalan Kaki warga Ciamis telah dipilih Allah Subhanahu Wata’ala menjadi wasilah umat Islam Indonesia, apakah benar nilai-nilai Islam ada dalam hati mereka.
Alhamdulillah, tekanan, penggembosan, intimidasi dan serangkaian fitnah agar gerakan umat Islam tidak menyatu justru berbalik layaknya bola salju.
Aksi nekad sauda Muslim Ciamis berjalan kaki setelah aparat keamanan melakukan intimidasi agar mereka tidak sampai Jakarta, justru menjadi viral di media sosial (medsos).
Aksi jalan kaki mereka, melahirkan solidaritas dan simpati banyak orang sehingga mereka semakin ingin datang ke Jakarta.
”Ini adalah panggilan di sini (menunjuk dada), kami tak kan pernah rela al Quran kami dinista,” kata Irmansyah, yang datang jauh-jauh dari Balikpapan bersama kawannya yang bahkan menjual HP satu-satunya untuk bisa datang ke Jakarta.
Irmansyah dan ratusan temannya rela mencarter pesawat dan kucing-kucingan dengan aparat saat masuk ke bandara.
”Kami dari Balikpapan ingin menyuarakan agar Ahok segera ditangkap,” kata Abu Syamil.* (BERSAMBUNG)


DIRIWAYATKAN bahwa Isa bin Musa RA. sangat mencintai istrinya. Pada suatu hari ia berkata sambil bercanda kepada istrinya, “Kamu akan kucerai jika tidak lebih cantik daripada bulan purnama!”

Mendengar kata-kata itu, ia bangkit dan menjauhi suaminya seraya berkata, “Suamiku, dengan kata-katamu itu, engkau telah menalakku!”

Sang suami terkejut mendengar pernyataan istrinya. Baginya, sang istri lebih cantik dari apa pun benda atau makhluk di dunia ini. Namun, siapa yang memungkiri kalau purnama adalah lambang dari kecantikan bidadari yang tiada tertandingi. Semalaman, ia hanya tidur sendirian tanpa sang istri sambil menyesali perkataannya.

Keesokan harinya ia pergi menemui Khalifah Al-Manshur RA. untuk menanyakan hukum permasalahannya. Isa RA. pun menceritakan seluruh kejadian yang menimpanya kepada Khalifah Al-Manshur. la berkata, “Wahai Amirul Mukminin. Jika perceraian benar-benar terjadi, betapa hancur jiwaku. Kiranya mati lebih baik bagiku daripada hidup tanpa istri yang sangat aku cintai itu!”

Al-Manshur RA. merasa iba dengan apa yang menimpa Isa RA. Kemudian ia memanggil para ahli hukum ke istananya untuk meminta fatwa. Dalam majelis fatwa tersebut, para ulama yang hadir berpendapat bahwa lelaki ini telah sah menceraikan istrinya dengan perkataan tersebut. Namun, salah satu dari mereka yang bernama Abu Hanifah RA. belum memberikan fatwanya. la hanya terdiam.

Al-Manshur RA. pun bertanya kepadanya, “Mengapa kau tidak berbicara?”

Lalu, Abu Hanifah RA. membaca Surat At-Tin [95]: 1 -4, “Demi (buah) Tin dan (buah) Zaitun, demi gunung Sinai, dan demi negeri (Mekah) yang aman ini. Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” Kemudian ia melanjutkan, “Ayat tersebut menjelaskan bahwa tidak ada sesuatu pun yang lebih cantik daripada manusia karena ia diciptakan sebaik-baiknya.”

Mendengar fatwa tersebut, Al-Manshur RA. tersenyum bahagia seraya berkata, “Allah SWT telah memberi jalan keluar untukmu. Itulah jawaban atas permasalahanmu. Istrimu tetap lebih cantik daripada bulan purnama, jadi belum ada talak baginya. Kembalilah kepada istrimu!”

Al-Manshur RA. pun menulis surat kepada istri Isa RA. yang menjelaskan bahwa suaminya belum menceraikannya berdasarkan fatwa Abu Hanifah tersebut.[]

Sumber: ceritainspirasimuslim

Ummul mukminin Juwairiyah binti al-Harits al-Kuza’iyah al-Qurasyiyah dilahirkan tahun 14 saat sebelum hijrah. Ia yaitu wanita yang sangatlah cantik serta mempunyai kedudukan mulia di dalam kaumnya. Ayahnya, al-Harits bin Abi Dhirar, yaitu kepala kabilah Bani Musthaliq.

Satu hari al-Harits bin Abi Dhirar menghimpun pasukan untuk menyerang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mendengar berita itu, Rasulullah selekasnya melakukan tindakan cepat serta bersualah ke-2 pasukan di suatu oase yang di kenal dengan Muraisi’. Peperangan itu dimenangkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam serta beberapa sahabatnya. Al-Harits bin Abi Dhirar tewas dalam peperangan sedang Juwairiyah bin al-Harits jadi tawanan.

Juwairiyah dijatuhkan juga sebagai sisi dari Tsabit bin Qais bin Syammas yang masih mempunyai jalinan kekerabatan dengannya. Tetapi Juwairiyah tak terima hal semacam ini. Ia datang pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam supaya bersedia menebus dirinya. Lantas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tawarkan tawaran yang lebih terhormat dari pada hal semacam itu. Nabi tawarkan diri untuk menikahinya. Dengan senang Juwairiyah terima tawaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Hikmah dari pernikahan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan Juwairiyah yaitu untuk mengalahkan hati Bani Musthliq supaya dapat menerima dakwah Islam. Karena pernikahan ini, beberapa teman dekat membebaskan tawanan-tawanan Bani Mustaliq yang jumlahnya seputar 100 keluarga. Beberapa teman dekat tak ikhlas kerabat Rasulullah jadi tawanan. Aisyah radhiallahu ‘anha juga memberikan pujian pada Juwairiyah juga sebagai wanita yang penuh keberkahan untuk kaumnya.

Pernikahan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan Juwairiyah berjalan pada tahun ke-5 H. Waktu itu ummul mukminin Juwairiyah binti al-Harits radhiallahu ‘anha berumur 19 atau 20 tahun. Rumah tangga nubuwah ini berjalan sepanjang 6 tahun.

Ummul mukminin Juwairiyah binti al-Harits meninggal dunia pada th. 56 H waktu berumur 70 tahun.[]

Sumber: nasihatislami

PEMIMPIN mempunyai sebuah tanggungjawab yang sangat besar. Ia harus memimpin rakyatnya ke jalan yang benar. Jika ia tidak mampu untuk mengarahkan rakyatnya maka kepemimpinannya tidak dapat dipertanggungjawabkan dengan baik.
Seorang pemimpin hendaknya bersikap tenang dalam situasi mencemaskan bahkan genting sekalipun. Ketika pemimpin kalut, maka rakyat pun semakin bingung.
Suatu hari, ada suara gaduh menyentak Kota Madinah. Penduduknya pun terkejut, khawatir, dan bertanya-tanya apa gerangan yang menimpa kota.
Dari Anas binMalik radhiyallahu ‘anhu,ia berkata: Rasulullah ﷺ adalah orang yang paling berbudi tinggi, dermawan, dan pemberani. Pernah di suatu malam, penduduk Madinah dikejutkan oleh suara yang sangat dahsyat. Orang-orang kemudian berangkat menuju ke arah suara tersebut.
Rasulullah ﷺ bertemu mereka saat hendak kembali pulang. Ternyata beliau telah mendahului mereka menuju ke arah suara tersebut. Waktu itu beliau naik kuda milik Abu Thalhah, di lehernya terkalung sebuah pedang. Beliau bersabda, ‘Kalian tidak perlu takut, kalian tidak perlu takut’. Anas berkata, ‘Kami mendapatkan kuda tersebut cepat larinya padahal sebelumnya adalah kuda yang lambat berlari’.” (Shahih Muslim 2307-48).

Rasulullah adalah orang terdepan yang melindungi rakyatnya dari ancaman bahaya. Kemudian menenangkan mereka di saat mereka takut dan kebingungan.[]
Sumber: kisahmuslim

KOTA Andalusia, Spanyol, dikuasai oleh seorang khalifah yang jujur dan adil bernama Al-Manshur bin Abi Amir Al-Hajib. Dia memiliki rencana besar untuk membangun sebuah jembatan sebagai penghubung dua kota yang dipisahkan sebuah sungai.
Proyek itu dianggarkan empat puluh ribu dinar emas. Meskipun menelan biaya besar, khalifah melihat sisi manfaatnya yang lebih besar bagi kelancaran transportasi dan kegiatan perekonomian masyarakatnya.
Diharapkan proyek itu dapat terealisasi. Oleh karena itu, penguasa harus membeli sepetak tanah milik orang tua yang miskin karena pada tanah itulah akan dibangun fondasi untuk jembatan tersebut. Khalifah menyuruh petugas proyek untuk membeli tanah tersebut dengan harga 100 dinar.
Petugas proyek pun melaksanakan perintah tersebut. Ia menemui si pemilik tanah dan bertanya kepadanya, “Berapa akan kaujual tanahmu ini?”
Orang tua miskin itu menjawab, “Lima dinar!”
Melihat tawaran orang tua miskin yang sangat rendah tersebut, petugas proyek berpikir untuk membeli tanah tersebut di bawah harga yang ditetapkan oleh sang khalifah. Artinya, ia telah menghemat pengeluaran negara.
Akhirnya, petugas tersebut menawar tanah yang dimaksud dengan harga 10 dinar, yang berarti dua kali lipat dari harga yang diminta pemilik tanah.
Tentu saja orang tua itu bahagia bukan kepalang. Baginya uang sepuluh dinar sangat besar. Ia bisa membeli tanah baru dan menabung sisanya.
Sementara itu, petugas proyek merasa telah menyelesaikan tugasnya dengan baik, bahkan menganggap dirinya telah berjasa menghemat pengeluaran negara. Ia pun menceritakan tawar-menawar yang terjadi dan berharap sang khalifah akan memuji idenya.
Mendengar hal tersebut raut wajah sang khalifah menunjukkan kekecewaan yang mendalam kepada petugasnya. Ia pun memerintahkan untuk memanggil lelaki tua miskin itu ke hadapannya.
Perintah pun dilaksanakan. Tidak lama kemudian, lelaki tua itu datang menghadap dengan seribu tanda tanya di kepalanya, “Apakah khalifah akan memarahiku karena telah menjual tanah dengan harga mahal?” pikirnya.

Di luar dugaan, ternyata Khalifah Manshur menyambutnya dengan wajah ceria seraya berkata, “Wahai Bapak Tua, benarkah engkau rela menjual tanahmu dengan harga sepuluh dinar?”
“Benar, Tuan. Aku telah ikhlas menjualnya,” jawab lelaki tua itu.
Khalifah Manshur kembali berkata, “Bapak Tua, tanah itu akan digunakan untuk kepentingan dan kemaslahatan bersama. Oleh karena itu, aku sampaikan terima kasih kepadamu atas kesediaan menjual tanah dengan harga murah. Namun, sebelumnya kami telah menetapkan untuk membeli tanahmu seharga seratus dinar. Jadi, terimalah sisa pembayaran yang harus kauterima!”
Lelaki tua itu terperanjat atas keputusan sang khalifah. Sama sekali ia tidak menyangka hak-haknya akan dihargai sedemikian rupa oleh penguasa. Ia pun berdoa semoga keberkahan senantiasa dicurahkan kepada pemimpin yang adil dan mengutamakan hak-hak rakyatnya.[]
Sumber: ceritainspirasimuslim

SIAPA yang tak kenal dengan Khalid bin Walid? Pasti kita sudah tidak asing lagi dengan nama Khalid bin Walid atau yang lebih sering dikenal dengan sebutan pedang Allah itu. Khalid merupakan panglima perang yang sangat hebat. Kemampuannya dalam memanaje pasukan sungguh dapat diandalkan. Ini terbukti dengan pasukan muslim yang tidak pernah kalah ketika dipimpin oleh Khalid bin Walid.
Salah satu kehebatan Khalid dalam menajemen pasukannya adalah saat menuju Syam, Khalid menyiapkan batalyon yang kuat. Yang terdiri dari para panglima pilihan. Seperti: al-Qa’qa’ bin Amr at-Tamimi, Dharar bin al-Khattab, Dharar bin al-Azwar, Ashim bin Amr, dll. Sampai akhirnya terkumpullha 10.000 pasukan berangkat menuju Syam.
Kecerdasan strategi militer Khalid dalam Perang Yarmuk telah tampak sejak mula. Terlihat pada caranya memilih jalan menuju lembah Yarmuk. Ia memilih melewati gurun-gurun yang bergelombang dan memiliki sumber air yang langka, sehingga pergerakan pasukan tidak mencolok. Kontur tanah bergelombang menyembunyikan pasukan dari penglihatan. Sementara sumber air langka membuat orang-orang jarang tinggal atau melewati tempat tersebut. Sehingga kerahasiaan pasukan bantuan pun tetap terjaga. Tentunya strategi ini membutuhkan pengenalan detil terhadap kondisi alam.

Khalid mendiskusikan bagaimana solusi kebutuhan air pasukan dengan penunjuk jalannya, Rafi’ bin Amirah. Rafi’ menyarankan agar semua pasukan membawa air sekemampuan mereka masing-masing. Sedangkan kuda-kuda mereka disiapkan sumber air sendiri. Mereka membawa 20 onta yang besar. Onta-onta meminum air yang banyak. Kemudian pada saatnya nanti, mereka disembelih dan dimanfatkan simpanan air di tubuh mereka untuk kuda-kuda yang kehausan. Sedangkan dagingnya dimakan oleh pasukan.
Khalid memotivasi pasukannya dengan mengatakan, “Kaum muslimin, jangan biarkan rasa lemah menjalari kalian. Dan rasa takut menguasai kalian. Ingatlah, pertolongan Allah itu datang tergantung dengan niat. Dan besarnya pahala itu tergantung pada kadar kesulitan. Seorang muslim wajib untuk tidak khawatir terhadap sesuatu, selama Allah menolong mereka.”
Para pasukan menanggapi seruan Khalid, “Wahai Amir, Allah telah mengumpulkan banyak kebaikan pada dirimu. Lakukanlah strategi yang ada di benakmu dan berjalanlah bersama kami dengan keberkahan dari Allah”.
Rute perjalanan pasukan Khalid adalah Qarqarah Suwa, Arch, Palmyra, al-Qaryatayn, Huwwarin, Marj Rahit, Bosra, dan tujuan terakhir Yarmuk. Pasukan ini berjalan melibas padang pasir di saat malam, pagi, dan menjelang siang. Karena di waktu-waktu tersebut cuacanya tidak panas. Selain menghemat energi, cara ini juga menjaga penggunaan air agar tidak boros.[]
Sumber: kisahmuslim

ﻭَﻗَﻀَﻰٰ ﺭَﺑُّﻚَ ﺃَﻟَّﺎ ﺗَﻌْﺒُﺪُﻭﺍ ﺇِﻟَّﺎ ﺇِﻳَّﺎﻩُ ﻭَﺑِﺎﻟْﻮَﺍﻟِﺪَﻳْﻦِ ﺇِﺣْﺴَﺎﻧًﺎ ۚ ﺇِﻣَّﺎ ﻳَﺒْﻠُﻐَﻦَّ ﻋِﻨْﺪَﻙَ ﺍﻟْﻜِﺒَﺮَ ﺃَﺣَﺪُﻫُﻤَﺎ ﺃَﻭْ ﻛِﻠَاﻫُﻤَﺎ ﻓَﻠَﺎ ﺗَﻘُﻞْ ﻟَﻬُﻤَﺎ ﺃُﻑٍّ ﻭَﻟَﺎ ﺗَﻨْﻬَﺮْﻫُﻤَﺎ ﻭَﻗُﻞْ ﻟَﻬُﻤَﺎ ﻗَﻮْﻟًﺎ ﻛَﺮِﻳﻤًﺎ
Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. (QS. Al Isra’ ayat 23).
Hari Ibu biasanya diperingati pada tanggal 22 Desember tiap tahunnya, tak ada yang menyangkal bahwa sosok ibu adalah orang yang paling berharga dalam hidup seseorang.  Pepatah mengatakan “Ibu adalah Sekolah pertama”, jadi patut saja jika Hari Ibu diperingati adanya.

Sebagai contoh yang layak diteladani, para sahabat serta tabi’in adalah orang yang paling dekat dengan Rasulullah SAW. Mereka senantiasa patuh dan mengerti apa saja yang disampaikan oleh Rasulullah.
Uwais al-Qarni (w. 657M), adalah salah satunya. Penggembala domba asal Qarn, Yaman, ini sangat layak dijadikan model bakti kepada sosok ibu.
Kisahnya berikut mungkin bisa mencerminkan betapa gigihnya Uwais dalam berbakti. Ibu Uwais telah renta, lumpuh pun lagi buta. Sebagai bentuk bakti, Uwais menggendong sang ibu dari Yaman menuju Mekkah untuk tunaikan ibadah haji. Jarak antara Yaman dan Mekkah sekitar empat ratus kilometer, tidak menyurutkan niat Uwais untuk membopong ibunya ke Mekkah.
إِنَّ خَيْرَ التَّابِعِينَ رَجُلٌ يُقَالُ لَهُ أُوَيْسٌ وَلَهُ وَالِدَةٌ وَكَانَ بِهِ بَيَاضٌ فَمُرُوهُ فَلْيَسْتَغْفِرْ لَكُمْ
Sesungguhnya tabi’in yang terbaik adalah seorang pria yang bernama . Uwais. Ia memiliki seorang ibu dan dulunya berpenyakit kulit (tubuhnya ada putih-putih). Perintahkanlah padanya untuk meminta ampun untuk kalian.” (HR. Muslim no. 2542).
Sudahkah kita mencontoh Uwais? []

BISAKAH Anda memprediksi, musibah apa yang akan Anda temui? Tentu tidak, bukan? Ya, kita tak akan pernah tahu akan seperti apa kita kedepannya. Kita juga tak bisa mencari rahunya. Sebab, hanya Allah Subhanahu wa Ta’ala sajalah pemegang kendali kehidupan setiap makhluk-Nya.
Siapa sangka jika suatu saat nanti kita akan mengalami musibah yang begitu dahsyat. Meski begitu, kita pasti mampu menghadapi musibah tersebut. Akan selalu ada jalan untuk mengatasinya. Tapi, tentu saja itu tidak gratis. Harus ada hal-hal yang perlu kita lakukan sebelumnya.
Ya, untuk membentengi diri kita dari musibah, maka perbanyaklah beramal baik. Amal-amal baik itu yang akan mengeluarkan diri kita dari musibah atau masalah kehidupan yang cukup berat. Sebagaimana hal ini telah dirasakan oleh tiga lelaki.
Diceritakan bahwa suatu ketika, ada tiga lelaki yang masuk ke dalam gua untuk melakukan sesuatu. Tapi, saat bermalam di sana, ketiga lelaki itu terjebak. Mulut gua itu tertutup batu besar dan kokoh.
Semua upaya telah dilakukan untuk menggeser batu itu. Tapi tetap saja tidak bergeser. Namun, saat berada dalam kondisi tersebut, mereka sadar bahwa tidak ada yang bisa menyelamatkan mereka, melainkan Allah. Mereka pun berdoa satu per satu pada Allah atas amal terbaik yang pernah dilakukan.

Lelaki pertama, berdoa dengan amalnya berbakti pada orangtua dan batu itupun sedikit bergeser. Tapi belum bisa digunakan sebagai jalan keluar. Kemudian, laki-laki kedua juga berdoa dengan amalnya yang mengikhlaskan uang 120 dinarnya pada seorang gadis dan membatalkan perbuatan zina. Setelah itu, batu itu bergeser tapi masih saja belum bisa untuk dilewati. Lelaki terakhir lalu berdoa dengan amalnya yang menyimpan gaji karyawan yang digunakannya untuk mengembangkan usaha pertenakan dan ia pun memberikan semua hasil dari peternakan itu pada pekerjanya. Dan akhirnya, batu itu terbuka lebar. Mereka semua pun bisa keluar dari gua dan selamat atas ijin Allah.
Berdasarkan kisah tersebut, kita diajarkan untuk senantiasa mengingat Allah. Menyadari bahwa setiap perbuatan kita dilihat Allah. Dan pasti dapat menjadi pencegah kita untuk melakukan perbuatan dosa, juga menjadi amalan baik yang bisa jadi perantara mengeluarkan kita dari masalah. Oleh karena itu, selalu dekatkan diri pada Allah agar Dia menjaga dan mempermudah urusan diri kita. []

UMAT Islam mengenal nama Mush’ab bin Umair sebagai pemuda yang sangat bersemangat dalam dakwah.  Ia adalah salah seorang sahabat nabi yang utama. Ia memiliki ilmu yang mendalam dan kecerdasan sehingga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutusnya untuk mendakwahi penduduk Yatsrib, Madinah.
Saat datang di Madinah, Mush’ab tinggal di tempat As’ad bin Zurarah. Di sana ia mengajrkan dan mendakwahkan Islam kepada penduduk negeri tersebut, termasuk tokoh utama di Madinah semisal Saad bin Muadz. Dalam waktu yang singkat, sebagian besar penduduk Madinah pun memeluk agama Allah ini. Hal ini menunjukkan –setelah taufik dari Allah- akan kedalaman ilmu Mush’ab bin Umair dan pemahamanannya yang bagus terhadap Alquran dan sunnah, baiknya cara penyampaiannya dan kecerdasannya dalam berargumentasi, serta jiwanya yang tenang dan tidak terburu-buru.
Hal tersebut sangat terlihat ketika Mush’ab berhadap dengan Saad bin Muadz. Setelah berhasil mengislamkan Usaid bin Hudair, Mush’ab berangkat menuju Saad bin Muadz. Mush’ab berkata kepada Saad, “Bagaimana kiranya kalau Anda duduk dan mendengar (apa yang hendak aku sampaikan)? Jika engkau ridha dengan apa yang aku ucapkan, maka terimalah. Seandainya engkau membencinya, maka aku akan pergi”. Saad menjawab, “Ya, yang demikian itu lebih bijak”. Mush’ab pun menjelaskan kepada Saad apa itu Islam, lalu membacakannya Alquran.

Saad memiliki kesan yang mendalam terhadap Mush’ab bin Umair radhiyallahu ‘anhu dan apa yang ia ucapkan. Kata Saad, “Demi Allah, dari wajahnya, sungguh kami telah mengetahui kemuliaan Islam sebelum ia berbicara tentang Islam, tentang kemuliaan dan kemudahannya”. Kemudian Saad berkata, “Apa yang harus kami perbuat jika kami hendak memeluk Islam?” “Mandilah, bersihkan pakaianmu, ucapkan dua kalimat syahadat, kemudian shalatlah dua rakaat”. Jawab Mush’ab. Saad pun melakukan apa yang diperintahkan Mush’ab.
Setelah itu, Saad berdiri dan berkata kepada kaumnya, “Wahai Bani Abdu Asyhal, apa yang kalian ketahui tentang kedudukanku di sisi kalian?” Mereka menjawab, “Engkau adalah pemuka kami, orang yang paling bagus pandangannya, dan paling lurus tabiatnya”.
Lalu Saad mengucapkan kalimat yang luar biasa, yang menunjukkan begitu besarnya wibawanya di sisi kaumnya dan begitu kuatnya pengaruhnya bagi mereka, Saad berkata, “Haram bagi laki-laki dan perempuan di antara kalian berbicara kepadaku sampai ia beriman kepada Allah dan Rasul-Nya!”
Tidak sampai sore hari seluruh kaumnya pun beriman kecuali Ushairim.
Karena taufik dari Allah kemudian buah dakwah Mush’ab, Madinah pun menjadi tempat pilihan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya hijrah. Dan kemudian kota itu dikenal dengan Kota Nabi Muhammad (Madinah an-Nabawiyah).[]
Sumber: kisahmuslim

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.